Apa yang anda pikirkan kalau lihat sepasang designer headphones yang
mahal? Bagi seorang pria yang mengenakan jas laboratorium, dia berpikir:
“Apa bisa digunakan dalam blender?” Dan inilah cerita dari serial video
YouTube “Will It Blend” yang didedikasikan untuk menguji “blendability”
dari berbagai produk-produk yang tak terduga, dari tongkat biliar ke
berbagai jenis ponsel sampai ke headset khusus untuk permainan video
populer – dan semuanya dihancurkan oleh blender!
Dengan lebih dari 227 juta penayangan video (views) dan lebih dari
641.000 pelanggan atau subscribers, Blendtec, perusahaan yang
memproduksi “Will It Blend,” berhasil menggunakan seri video YouTube
untuk menarik perhatian kepada produknya, sebuah blender premium.
Indonesia juga memiliki pelopor pemasaran yang menggunakan video
YouTube, yaitu entrepreneur muda Diajeng Lestari. Perusahaannya,
HijUp.com, adalah mal online untuk busana muslim yang modern dan
ekspresif.
Jadi bagaimana caranya HijUp.com memilih YouTube?
“YouTube adalah sebuah platform pemasaran yang
memerlukan anggaran rendah tetapi memiliki dampak yang tinggi,” kata
Diajeng Lestari, pendiri dan Managing Director HijUp.com. “Kami mulai posting video tutorial hijab di Youtube sejak Agustus 2011.”
Saluran YouTube HijUp menawarkan serangkaian video tutorial bagaimana
mengenakan busana hijab dengan kreatif. Saat ini, saluran YouTube HijUp
memiliki lebih dari 94 ribu pelanggan dan hamper 12 juta views, membuat
saluran ini salah satu yang terpopular di Indonesia. Dan lalu lintas
atau traffic internet inilah yang dapat membantu meningkatkan pengenalan
merek untuk toko online, HijUp.com. Video-video di HijUp.com mencerminkan filosofi desain di belakang produk mereka: sederhana namun elegan.
“Membuat video sebenarnya tidak sulit. Kami memiliki partner dengan
blogger, make-up artis dari sebuah brand make-up halal serta videografer
profesional. Dan tentu saja kita mendapatkan banyak masukan dari
pemirsa kita tentang kualitas video, suara, dan lain-lain. Feedback
inilah yang membantu kami meningkatkan kualitas video,” kata Diajeng.
Selain itu, dengan tidak adanya bahasa dalam videonya membuat konten ini
ideal bagi pelanggan internasional, sebagaimana terlihat di
komentar-komentar bahasa Inggris di YouTube dan situs webnya.
HijUp juga menggunakan berbagai aplikasi dan tool pemasaran
online, termasuk Google Analytics untuk membantu melacak jumlah lalu
lintas yang masuk ke situs webnya. Berdasarkan Analytics, Diajeng dapat
melihat bahwa YouTube bisa berkontribusi sampai 68,31% dari semua
pengunjung baru ke HijUp.com.
“Menggunakan Youtube sebagai salah satu platform pemasaran sangat
cocok karena web tools seperti ini sangat membantu start-up kami untuk
terus berkembang,” tutup Diajeng. Jadi siapa bisnis berikutnya yang akan
menggunakan video online secara kreatif untuk mendapatkan pelanggan
baru?
No comments:
Post a Comment