Dunia bisnis cenderung tidak memiliki hati. Dunia bisnis cenderung
bergerak hantam kiri kanan yang penting untung. Konsep yang diusung oleh
para social entrepreneur sedikit berbeda. Laba penting untuk memastikan kelangsungan usaha. Tetapi mereka menginginkan satu hal tambahan : social impact.
Spektrum Social Enterprise ini cukup lebar. Di ujung kiri adalah
bentuk organisasi non profit yang memang memiliki misi sosial.
Organisasi ini kemudian membentuk unit usaha yang bertugas menghasilkan
uang agar dapat menyokong misi sosial mereka. Contoh organisasi seperti
ini adalah Palang Merah Internasional.
Sementara itu di ujung kanan ada juga bentuk perusahaan yang memang
berorientasi profit sambil menjalankan misi sosial secara konsisten.
Contoh perusahaan yang sangat terkenal dengan misi sosialnya adalah The
Body Shop. Pendiri The Body Shop – Anne Roddick adalah seorang penggiat
lingkungan hidup. The Body Shop secara konsisten menggunakan produk yang
aman untuk lingkungan. Dalam berbagai komunikasi iklan, perusahaan ini
pun berupaya mengangkat perihal isu self esteem perempuan. Anne
meninggalkan sebuah legacy. The Body Shop adalah contoh
bagaimana upaya pelestarian lingkungan hidup dapat kita jalankan dalam
bentuk perusahaan profesional.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini punya segudang masalah.
Mulai dari lingkungan hidup, sosial, psikologis hingga urusan finansial.
Negeri ini punya masalah – yang jika kita cermati bisa menumbuhkan
opportunity untuk bangkitnya berbagai usaha-usaha dengan orientasi social enterprise.
Contohnya adalah sekelompok anak muda dari Bandung. Mereka mengusung
misi lingkungan hidup dan konsisten dengan misi itu melalui sebuah usaha
yang Anda bisa lihat di www.greeneration.org. Teman-teman di
Greeneration ini pantas masuk dalam kategori social purpose business.
Ingin terjun sebagai social enterpreneur? Yuk siapkan beberapa langkah berikut:
Garuk gatalmu sendiri!
Tidak ada yang lebih tahu tentang masalah kita, kecuali kita sendiri.
Mari melihat ada masalah sosial apa yang membutuhkan solusi, bukan
sekadar omelan tak berujung. Definisikan dahulu apa misi sosial kita.
Apa yang akan kita jual?
Produk atau jasa apa yang bisa menjadi solusi terhadap masalah sosial
dan lingkungan di sekeliling kita. Buat prototype atau tes pasar dengan
jasa gratis. Setelah itu jangan malu berjualan. Selalu ada pembeli
pertama dari sebuah bisnis baru kan?
Siapa yang akan membeli?
Teman yang baik bilang produk atau jasa kita baik. Tapi sahabat yang
baik akan jujur tentang baik buru produk atau jasa kita. Masalah mereka
sekarang bukan teman dan sahabat. Mereka calon pembeli! Belum tentu
teman atau sahabat ini bersedia berpisah dengan uangnya untuk membeli.
Definisikan secara spesifik calon pembeli kita. Kenali dengan baik.
Bagaimana cara menjualnya?
Dari misi sosial atau lingkungan yang jelas, akan muncul ide produk atau
jasa yang sebagai solusi. Dengan mengenali calon pembeli, kita bisa
mulai merancang cara menjual yang khusus juga. Tentu saja selanjutnya
selalu konsisten antara social impact dengan laba usaha.
Mencetak uang itu biasa. Mencetak uang dengan hati. Ini baru luar biasa.
Coba perhatikan sekeliling Anda. Apakah ada masalah sosial yang membutuhkan keahlian Anda?
No comments:
Post a Comment