Rumah kecil itu bernama mimpi. Atapnya terbuat dari benci. Dindingnya terbuat dari dengki. Dan lantainya terbuat dari sombong. Di dalam rumah itu terdapat sofa kecil yang bernama cita-cita. Kulitnya terbuat dari ambisi. Dan bantalannya terbuat dari sugesti. Sofa itu begitu nyaman untuk diduduki. Sehingga si penghuni rumah yang bernama waktu selalu ingin berlama lama dengan sofa tersebut. Waktu memiliki kepribadian ganda dalam dirinya. Mereka adalah kakak beradik yang bernama dulu, kini, dan esok. Ketiganya selalu datang silih berganti dan sering bertikai untuk menjadi yang terbaik. Yang tertua mengatakan bahwa ia adalah panutan; yg tanpa kehadirannya, keberhasilan kedua adiknya tidak akan pernah ada. Sementara yg kedua, mengatakan bahwa ialah yg bertugas memperbaiki kesalahan yg pernah diperbuat oleh kakak sulungnya dan menentukan arah bagi adiknya. Tetapi menurut si bungsu, sebagai yang termuda ia merasa ialah yang terhebat. Karena sebagai penerus, kehadirannya tidak saja berfungsi untuk menggantikan tugas-tugas sang kakak tetapi juga untuk mengurus seluruh isi rumah nantinya. Pertikaian ini sering terjadi dalam rumah itu. Hingga akhirnya sofa itu menjadi rusak dan tidak lagi nyaman untuk diduduki. Waktupun menjadi bingung dan bosan. Dengan marah dibuangnya sofa itu, dan iapun kemudian tidur diatas lantai. Terlelap nyenyak dalam kesendirian. Tidak ada lagi dulu, kini, dan esok. Yang ada hanya waktu...
tapi ini bukan mimpi...
ReplyDeleteini adalah kenyataan...
kenyataan yang sayangnya masih harus terbentur waktu...
namun waktu selalu tahu....
selalu menunggu...
sampai tiba aku...
menuju padamu....
wkwkwkwkwkwk.....
=p
hohohoho....
ReplyDeleteurgh, nggemeshyiin bgt sich...
jika saja dapat kutahan laju sang waktu..aku pasti masih berdiri disini dalam sendiri.
ReplyDeletebila saja dapat ku tahan marah..aku pasti tak merasa sendiri dalam dunia ini.
btw, thanks atas koreksinya.