BUKAN! Bukan berbohong terhadap ortu! Bukan bo'ong sama temen! Bukan juga sama boss atw atasan! Tapi berbohonglah pada kebohongan! Loh, apa lagi ini?! Kenapa musti berbohong pada kebohongan? Simple: agar aman, nyaman, tentrem, gemah ripah loh jinawi (hohoho... ini bukan brarti aku penganut ORBA loh). Cobalah tengok saja kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah, semuanya spertinya udh mulai terjangkit virus ini. Ada yg bilang ini bukan trend, tapi merely memang udh hakekatnya manusia sbg tempatnya salah dan lupa. Bukannya membela ras manusia (hhm, secara saya jg manusia), tapi memang kenyataanya demikian. Gak ada manusia yg sempurna! Semua tahu itu. Tapi kalau Nabi bagaimana? Yang ini mah beda urusannya. Ngga usah saya jawab, handai taulan sdh pasti tahu jawabannya ^^! Lalu bagaimana wujud berbohong pada kebohongan itu? Gampang. Pernah dengar kata petai? Bagi sebagian orang, petai dianggap "haram" lantaran efek yang ditimbulkan setelah menyantapnya. Namun bagi orang yg sdh kepincut sama rasa petai, mereka akan menjadi addicted alias tetap mengkonsumsinya meski itu "berbahaya".
Singkatnya begini. Orang yg gemar petai itu tahu betul bahwa petai akan menimbulkan bau yg tidak sedap. Dan ia tahu betul bahwa ini akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang2 disekitarnya. Instead of following the manner of the community, ia tetap melahapnya (dgn penuh suka-cita). Jadi ia telah berbohong pada sistem yang ada. Kemudian, karena sadar akan "kesalahan" yang telah diperbuatnya ini, iapun segera berusaha untuk menghilangkan aroma petai tersebut dengan berbagai cara. Singkatnya, secara tidak langsung ia berbohong pada dirinya sendiri. To be not abandoned by the community, one needs to hide his integrity. Nah, inilah yg dimaksud dengan berbohong pada kebohongan. Terdengar klise? Yup! memang begitulah adanya.
Lalu apa ini cm terjadi pd si petai lover? Ya ngga lah! Aksi berbohong pada kebohongan bisa terjadi pada berbagai situasi, kondisi, dan peristiwa yang berbeda-beda. Misalnya, nyeramahin orang supaya jangan mengejar dunia, eh malah dia bisnisnya dimana-mana. Nulis buku dengan kata2 manis bahwa ia semata-mata ingin berbagi ilmu dan menolong sesama, eh bukunya malah dijual dengan mahalnya. Membuka tempat meditasi dgn alasan untuk membantu orang memperoleh ketenangan jiwa dan raga, eh gak tahunya musti bayar. Berkoar-koar agar orang sadar terhadap pemanasan global, eh dia malah menggunakan air conditioner di rumahnya. Mengadakan seminar tentang SEO dengan dalih mencerdaskan masyarakat, eh ternyata cm untuk mendapatkan client baru belaka. Bilang cinta dan akan setia selamanya, eh malah nikah siri sampai berkali-kali. Aargh... what a life!!!
Singkatnya begini. Orang yg gemar petai itu tahu betul bahwa petai akan menimbulkan bau yg tidak sedap. Dan ia tahu betul bahwa ini akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang2 disekitarnya. Instead of following the manner of the community, ia tetap melahapnya (dgn penuh suka-cita). Jadi ia telah berbohong pada sistem yang ada. Kemudian, karena sadar akan "kesalahan" yang telah diperbuatnya ini, iapun segera berusaha untuk menghilangkan aroma petai tersebut dengan berbagai cara. Singkatnya, secara tidak langsung ia berbohong pada dirinya sendiri. To be not abandoned by the community, one needs to hide his integrity. Nah, inilah yg dimaksud dengan berbohong pada kebohongan. Terdengar klise? Yup! memang begitulah adanya.
Lalu apa ini cm terjadi pd si petai lover? Ya ngga lah! Aksi berbohong pada kebohongan bisa terjadi pada berbagai situasi, kondisi, dan peristiwa yang berbeda-beda. Misalnya, nyeramahin orang supaya jangan mengejar dunia, eh malah dia bisnisnya dimana-mana. Nulis buku dengan kata2 manis bahwa ia semata-mata ingin berbagi ilmu dan menolong sesama, eh bukunya malah dijual dengan mahalnya. Membuka tempat meditasi dgn alasan untuk membantu orang memperoleh ketenangan jiwa dan raga, eh gak tahunya musti bayar. Berkoar-koar agar orang sadar terhadap pemanasan global, eh dia malah menggunakan air conditioner di rumahnya. Mengadakan seminar tentang SEO dengan dalih mencerdaskan masyarakat, eh ternyata cm untuk mendapatkan client baru belaka. Bilang cinta dan akan setia selamanya, eh malah nikah siri sampai berkali-kali. Aargh... what a life!!!
mmmm...kebanyakan orang suka berbohong pada kebohongan secara gag sadar. termasuk aku. walopun tiba2 sadar tapi kok malah justru gag dilakuin. ya toh?? insya alloh semua kudu dimulai dr diri sendiri meskipun cuma hal kecil yg kadang2 kita anggap sepele. chayo!!
ReplyDeletemenurut aku sama saja dengan filosofi orang jawa dulu tuch
ReplyDeletemenurutku itu sama kayak filosofi orang jawa dulu tuch...
ReplyDeletemunafik, gituh?
ReplyDeleterajin pangkal pandai...
ReplyDeletehemat pangkal kaya...
tengkyu atas komennya...
Yup! Seperti halnya kami yg tidak pernah konsisten dgn tarif pulsa telpon. Selalu berubah-ubah hehehe...
ReplyDeleteKami memang nyebelin!
makanya... mending pake Fren.
ReplyDeleteMurah, Tidak Repot!
Ah Bo'ong!
ReplyDeleteMurahnya cuma ke sesama operator doank! Lebih baik pakai AXIS,
GSM yang baik!
Murah tapi kalo sinyalnya lemah gmana? Makanya pake Simpati aja!
ReplyDelete"Begitu Dekat Begitu Nyata"
Haloooo...
ReplyDeletegimana kalo pake esia aja???
"pasti lebih untung,
pasti lebih hemat"
Jangan pake esia!
ReplyDeleteItu kan punya bakrie si perusak lingkungan! Mending pake Mentari Sakti, murahnya berani diadu!