Hari ini saya tidak ada ide untuk menulis. Tapi berhubung ini bulan Desember, saya punya sebuah cerita yang sangat menyentuh mengenai seseorang yang tidak kita kenal namun saya yakin setiap pembaca mengetahui karya besarnya. Cerita ini saya dapat dari milis Volunteer UWRF yang ada di inbox webmail saya sejak setahun lalu. Selamat membaca ^^!
John Pierpont meninggal dalam kegagalan pada tahun 1866, pada usia delapan puluh satu, ia mencapai akhir hidupnya sebagai pegawai pemerintahan di Washington, D.C., dengan serangkaian kegagalan pribadi yang panjang yang mengikis jiwanya. Semuanya berawal cukup baik. Ia lulus dari Yale, yang telah didirikan dengan bantuan kakeknya, dan dengan antusias memilih pendidikan sebagai profesinya. Ia gagal sebagai pengajar. Ia terlalu lembek kepada murid-muridnya. Maka ia pindah ke dunia hukum sebagai latihan. Ia gagal sebagai pengacara. Ia terlalu murah hati pada kliennya dan terlalu peduli pada keadilan untuk tidak peduli pada kasus-kasus yang bayarannya tinggi. Karir selanjutnya yang Ia ambil adalah menjadi pedagang tekstil. Ia gagal sebagai orang bisnis. Ia tidak bisa memberi harga yang cukup bagi barang-barangnya untuk mendapat keuntungan dan terlalu bebas memberi kredit. Sementara itu Ia telah menulis puisi, dan walaupun puisinya di publikasikan, Ia tidak mendapatkan royalti yang cukup untuk menghidupi dirinya. Ia gagal menjadi penyair. Maka ia memutuskan untuk menjadi pendeta, pergi ke sekolah teologi di Havard Divinity School, dan di tahbiskan menjadi pendeta di Gereja Hollis Street di Boston. Tapi posisinya sebagai pembuat peraturan dan penentang perbudakan membuat Ia bentrok dengan aggota jemaat yang berpengaruh dan Ia dipaksa mengundurkan diri. Ia gagal sebagai pendeta. Politik kelihatan tempat dimana Ia bisa melakukan suatu perubahan, dan Ia di nominasikan sebagai kandidat partai Abolition menjadi gubernur Massachusetts. Ia kalah. Pantang mundur, ia mencalonkan diri menjadi anggota Konggres di bawah bendera partai Fee Soil. Ia kalah. Ia gagal sebagai politisi. Perang saudara pecah, dan ia menjadi sukarelawan sebagai pendeta untuk para tentara. Pendeta dari resimen sukarelawan Massachusetts ke-22. Dua minggu kemudian ia berhenti, kaarena menemukan bahwa tugas itu terlalu menegangkan bagi kesehatannya. Ia berumur tujuh puluh enam tahun. Ia bahkan tidak sanggup menjadi pendeta bagi para tentara.
Seorang mencarikan pekerjaan yang umum di kantor belakang Departemen Keuangan di Washington, dan Ia menghabiskan lima tahun terakhir hidupnya sebagai pegawai administrasi tingkat rendah. Kerjanya di sana juga tidak terlalu bagus. Hatinya tidak ada di sana. John Pierpont Mati dalam kegagalan. Ia tidak berhasil melakukan apa yang ia ingin lakukan dan tidak berhasil menjadi seseorang yang Ia impikan. Ada sebuah batu nisan kecil yang menandai kuburannya di Mount Aubum Cemetry di Cambridge, Massachusetts. Kata-kata di batu granit itu berbunyi : Penyair, Pendeta, Filosof, Filanthrophis.
Setelah waktu berlalu, sekarang, orang mungkin bersikeras bahwa sebenarnya, ia tidaklah gagal. Komitmennya kepada keadilan sosial, keinginannya untuk menjadi manusia yang penuh cinta kasih, ketelibatannya secara aktif dalam hal-hal besar dijamannya dan kesetiaannya pada kekuatan pikiran manusia- semua ini bukanlah kegagalan. Dan banyak hal yang Ia pikir sebagai suatu kekalahan berubah menjadi keberhasilan. Pendidikan di bentuk ulang, proses hukum diperbaiki, hukum piutang diubah, dan di atas segalanya perbudakan dihapuskan sekali dan untuk selamanya.
Kenapa Saya menceritakan hal ini kepada anda? Ini bukan suatu cerita yang menghebokan. Banyak tokoh reformasi abad sembilan belas memiliki kehidupan yang serupa - kegagalan dan kesuksesan yang serupa. Dalam satu hal yang paling penting, John Pierpont tidaklah gagal. Setiap tahun saat Desember tiba, kita merasakan kesuksesannya. Dalam hati dan pikiran kita, kita mengingat sebuah kenangan sepanjang hidup baginya. Kenangan itu adalah sebuah lagu. Bukan mengenai Jesus atau para Malaikat atau bahkan Santa Klaus. Hanyalah sebuah lagu yang sangat sederhana mengenai kegembiraan meluncur melintasi kemuraman dan kegelapan musim dingin, di dalam sebuah kereta yang ditarik seekor kuda. Dan dengan ditemanin kawan-kawan, tertawa dan bernyanyi sepanjang jalan. Tidak lebih, tidak kurang. "Jingle Bells." John Pierpont menulis "Jinggle Bells".
Menulis sebuah lagu yang mengungkapkan kegembiraan yang sederhana, menulis sebuah lagu yang di kenal oleh tiga atau empat ratus juta orang di seluruh dunia - sebuah lagu mengenai sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan namun bisa mereka khayalkan - sebuah lagu yang kita semua, baik besar maupun kecil, bisa nyanyikan begitu nadanya dimainkan piano dan dimainkan dalam semangat kita - yah, ini bukanlah suatu kegagalan. Di suatu sore bersalju dimusim dingin yang hebat, John Pierpont menuliskan syair ini sebagai hadiah kecil untuk keluarganya, teman-temannya dan anggota jemaatnya. Dan dengan demikian meninggalkan sebuah hadiah permanent untuk Natal - hadiah terbaik - bukan hadiah dibawah pohon natal, tetapi hadiah kegembiraan yang tidak terliat dan tidak terkalahkan.
John Pierpont meninggal dalam kegagalan pada tahun 1866, pada usia delapan puluh satu, ia mencapai akhir hidupnya sebagai pegawai pemerintahan di Washington, D.C., dengan serangkaian kegagalan pribadi yang panjang yang mengikis jiwanya. Semuanya berawal cukup baik. Ia lulus dari Yale, yang telah didirikan dengan bantuan kakeknya, dan dengan antusias memilih pendidikan sebagai profesinya. Ia gagal sebagai pengajar. Ia terlalu lembek kepada murid-muridnya. Maka ia pindah ke dunia hukum sebagai latihan. Ia gagal sebagai pengacara. Ia terlalu murah hati pada kliennya dan terlalu peduli pada keadilan untuk tidak peduli pada kasus-kasus yang bayarannya tinggi. Karir selanjutnya yang Ia ambil adalah menjadi pedagang tekstil. Ia gagal sebagai orang bisnis. Ia tidak bisa memberi harga yang cukup bagi barang-barangnya untuk mendapat keuntungan dan terlalu bebas memberi kredit. Sementara itu Ia telah menulis puisi, dan walaupun puisinya di publikasikan, Ia tidak mendapatkan royalti yang cukup untuk menghidupi dirinya. Ia gagal menjadi penyair. Maka ia memutuskan untuk menjadi pendeta, pergi ke sekolah teologi di Havard Divinity School, dan di tahbiskan menjadi pendeta di Gereja Hollis Street di Boston. Tapi posisinya sebagai pembuat peraturan dan penentang perbudakan membuat Ia bentrok dengan aggota jemaat yang berpengaruh dan Ia dipaksa mengundurkan diri. Ia gagal sebagai pendeta. Politik kelihatan tempat dimana Ia bisa melakukan suatu perubahan, dan Ia di nominasikan sebagai kandidat partai Abolition menjadi gubernur Massachusetts. Ia kalah. Pantang mundur, ia mencalonkan diri menjadi anggota Konggres di bawah bendera partai Fee Soil. Ia kalah. Ia gagal sebagai politisi. Perang saudara pecah, dan ia menjadi sukarelawan sebagai pendeta untuk para tentara. Pendeta dari resimen sukarelawan Massachusetts ke-22. Dua minggu kemudian ia berhenti, kaarena menemukan bahwa tugas itu terlalu menegangkan bagi kesehatannya. Ia berumur tujuh puluh enam tahun. Ia bahkan tidak sanggup menjadi pendeta bagi para tentara.
Seorang mencarikan pekerjaan yang umum di kantor belakang Departemen Keuangan di Washington, dan Ia menghabiskan lima tahun terakhir hidupnya sebagai pegawai administrasi tingkat rendah. Kerjanya di sana juga tidak terlalu bagus. Hatinya tidak ada di sana. John Pierpont Mati dalam kegagalan. Ia tidak berhasil melakukan apa yang ia ingin lakukan dan tidak berhasil menjadi seseorang yang Ia impikan. Ada sebuah batu nisan kecil yang menandai kuburannya di Mount Aubum Cemetry di Cambridge, Massachusetts. Kata-kata di batu granit itu berbunyi : Penyair, Pendeta, Filosof, Filanthrophis.
Setelah waktu berlalu, sekarang, orang mungkin bersikeras bahwa sebenarnya, ia tidaklah gagal. Komitmennya kepada keadilan sosial, keinginannya untuk menjadi manusia yang penuh cinta kasih, ketelibatannya secara aktif dalam hal-hal besar dijamannya dan kesetiaannya pada kekuatan pikiran manusia- semua ini bukanlah kegagalan. Dan banyak hal yang Ia pikir sebagai suatu kekalahan berubah menjadi keberhasilan. Pendidikan di bentuk ulang, proses hukum diperbaiki, hukum piutang diubah, dan di atas segalanya perbudakan dihapuskan sekali dan untuk selamanya.
Kenapa Saya menceritakan hal ini kepada anda? Ini bukan suatu cerita yang menghebokan. Banyak tokoh reformasi abad sembilan belas memiliki kehidupan yang serupa - kegagalan dan kesuksesan yang serupa. Dalam satu hal yang paling penting, John Pierpont tidaklah gagal. Setiap tahun saat Desember tiba, kita merasakan kesuksesannya. Dalam hati dan pikiran kita, kita mengingat sebuah kenangan sepanjang hidup baginya. Kenangan itu adalah sebuah lagu. Bukan mengenai Jesus atau para Malaikat atau bahkan Santa Klaus. Hanyalah sebuah lagu yang sangat sederhana mengenai kegembiraan meluncur melintasi kemuraman dan kegelapan musim dingin, di dalam sebuah kereta yang ditarik seekor kuda. Dan dengan ditemanin kawan-kawan, tertawa dan bernyanyi sepanjang jalan. Tidak lebih, tidak kurang. "Jingle Bells." John Pierpont menulis "Jinggle Bells".
Menulis sebuah lagu yang mengungkapkan kegembiraan yang sederhana, menulis sebuah lagu yang di kenal oleh tiga atau empat ratus juta orang di seluruh dunia - sebuah lagu mengenai sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan namun bisa mereka khayalkan - sebuah lagu yang kita semua, baik besar maupun kecil, bisa nyanyikan begitu nadanya dimainkan piano dan dimainkan dalam semangat kita - yah, ini bukanlah suatu kegagalan. Di suatu sore bersalju dimusim dingin yang hebat, John Pierpont menuliskan syair ini sebagai hadiah kecil untuk keluarganya, teman-temannya dan anggota jemaatnya. Dan dengan demikian meninggalkan sebuah hadiah permanent untuk Natal - hadiah terbaik - bukan hadiah dibawah pohon natal, tetapi hadiah kegembiraan yang tidak terliat dan tidak terkalahkan.
Komentar.. ! Asyik aku yang pertamax.
ReplyDeleteMemang, suatu kegagalan kita terima tidak berarti kita kalah, kemenangan sejati adalah ketika kita tidak tahu bahwa orang lain telah menikmati hasil perjuangan kita, yang tadi berawal dari puluhan kegagalan bahkan seumur hidup penuh kegagalan.
Yang harus dilakukan adalah tetap optimis dan terus berjuang, suatu saat dibalik kegagalan ada ke memengan besar.
salam
aku salut sama tokoh dalam artikel ini.
seperti kata orang2..bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
ReplyDeletejadi yg menulis jingle bells itu si John Pierpont ini ya.
Waduh ga bisa ngomong apa deh tentang dia... Kok jadi mirip aku dikit. Nyoba ini nyoba itu tapi lum ada hasil. :)
ReplyDelete"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas? Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! Klik disini-1 dan
disini-2"