30 June 2008

R-A-H-A-S-I-A

Alkisah bertemulah empat orang sahabat yang berbeda karekter; yakni skeptis, oportunis, optimis, dan agamis. Mereka bertemu di sebuah taman gak penting dan membicarakan hal yang gak penting pula, yakni maraknya ulama yang doyan bikin anak banyak-banyak. Menurut sahabat yang bersifat skeptis, fenomena ini disebabkan oleh adanya keinginan dari para ulama agar ada yang mendoakan mereka jika mereka telah meninggal kelak. Ia berpikir bahwa para ulama kemungkinan khawatir akan ditinggalkan oleh umatnya ketika mereka telah tiada. Sementara sahabat yang berwatak oportunis tidak menganggapnya demikian. Menurutnya, kebiasaan ini timbul karena adanya phobia di kalangan ulama akan hirarki bisnis mereka; bahwa para ulama kemungkinan takut bila kerajaan bisnis yang mereka miliki tidak akan ada yang meneruskan selepas mereka meninggal dunia, dan merekapun sulit untuk memberikan kepercayaan terhadap orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. Lain halnya dengan sahabat yang memiliki karakter optimis. Menurutnya, hobi para ulama ini timbul karena adanya keinginan untuk mempertahankan ajaran agama yang mereka anut. Para ulama merasa bahwa hanya keturunannyalah yang mampu memberikan ajaran terbaik. Nah, melihat tanggapan miring yang dilontarkan oleh ketiga sahabatnya ini, sahabat yang berjiwa agamis pun akhirnya angkat bicara. Menurutnya, para ulama memiliki banyak anak karena mereka juga memiliki banyak istri. Dalam ajaran agamanya, memiliki banyak istri itu halal. Dan selain itu, para ulama kemungkinan berpikir bahwa penggunaan alat kontrasepsi maupun program keluarga berencana itu hukumnya haram. Jadi, mumpung masih hidup, tidak ada salahnya untuk menikmati indahnya dunia, yakni dengan kawin, kawin, dan kawin lagi….

7 comments:

  1. Hai, aku adalah anak salah satu ulama di negara ini. Menurutku, memiliki banyak istri maupun banyak anak itu sah-sah saja selama ia bisa bersikap adil terhadap semua istri & anak-anaknya. Tapi ada satu kekurangannya; aku merasa terasing, aku tidak bisa hidup normal seperti anak-anak yang lain pada umumnya. Sepertinya aku dan saudara-saudaraku berada di “dunia” yang berbeda. Ah, sudahlah… Hidup cuma skali. Kenapa aku harus pusing? Yang penting aku disekolahkan dan diberi makan setiap hari.

    ReplyDelete
  2. Wah menurut saya banyak anak itu banyak rejeki. Bukan rejeki bagi yang memiliki anak, tetapi rejeki bagi saya dan kawan-kawan yang berprofesi sebagai pebisnis. Semakin banyak anak berarti semakin banyak pula peluang bagi kami untuk meningkatkan revenue. Jadi, kalau boleh saya memberi saran, ayo bikin anak yang banyak agar saya dan kawan-kawan semakin kaya. Hehehehe….

    ReplyDelete
  3. Waduh waduh, mas-mas sekalian masih belum nyadar juga ya? Indonesia uda penuh dengan manusia miskin dan jarang dari mereka yang memenuhi kualitas sdm yg telah di tetapkan.
    Aku ga setuju banget dengan hal itu, la wong bpkku pegawai BKKBN. Dari kecil aku uda didik 2 anak saja cukup. Semakin sedikit anak akan semakin teruruslah mereka........... sekian dan cabut dulu ah..

    ReplyDelete
  4. Saya setuju dengan pendapat bpk pengusaha diatas, yakni banyak anak banyak rejeki. Artinya, semakin banyak anak berarti semakin banyak pula yang akan terinfeksi penyakit. Dan tentunya, apotik saya akan dibanjiri oleh banyak pembeli.

    ReplyDelete
  5. Pak dokter bisa aja... mudah2an yang sakit ga bayar ongkos dokter, karena miskin banget.

    ReplyDelete
  6. Sebagai presiden, saya sedih melihat fenomana ini. Sudah sepantasnyalah kita, bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab, mampu berpikir rasional; bahwa semakin tinggi populasi maka semakin tinggi pula masalah yang akan kita hadapi. Kiranya para ulama mampu menyikapi hal ini.

    ReplyDelete
  7. setuju dengan bapak presiden ah..... hidup KB

    ReplyDelete