27 May 2008

seorangwanitayanginginmembungkusawan

Hitam mendung langit terlihat jelas. Angin dingin menerpa lembut pipinya. Semilir datang dengan pesan rahasia: bolehkah hujan tiba tanpa diminta? Bolehkah pelangi pergi tanpa ambisi? Ah, seandainya saja ia bisa membungkus awan. Kan dirawatnya indah sepanjang sisa hidupnya. Bukan dengan arogan. Tidak juga dengan posesif. Tapi dengan peluh cinta dan simpul perhatian. Yang terikat lembut dalam sirkus emosi. Melompat, berlari, terjungkal, dan kemudian berdiri tegap dalam tenda jiwa. Baik dengan riangnya duka maupun getirnya bahagia. Ups, tapi tunggu! Ia ingat sesuatu. Awan adalah awan. Terbang dan melayang sesuka hatinya. Dan terkadang menangis tanpa sebab yang jelas. Tapi kemudian berseri dengan lengkung warna-warni yg melekat di pipi. Urgh, seandainya saja ia punya mantra. Kan dibuatnya awan itu tunduk dan patuh selamanya. Supaya bisa ia bermain dengan sepuas hati. Membawanya kemanapun ia suka. Baik untuk pelipur lara, pencerah mimpi, pun juga untuk redupkan berisiknya dunia. Baik untuk dirinya sendiri dan juga untuk dibagi bersama. Menjadikannya multi fungsi dalam multi dimensi. Menyimpannya hati-hati dalam lembut kain kasih. Hingga saatnya nanti ia bisa melepaskannya pergi. Pada sabana tanpa kasta. Bebas melesat tanpa rupa! Lantang bersuara tanpa rasa!

3 comments:

  1. waduh koeh. potingan ini benar2 sebuah cerita sastra. saya bingung untuk membuat koment. dalamnya makna postingan ini mungkin cuma ente yang tahu.!!

    ReplyDelete
  2. Bungkussss.....

    ReplyDelete
  3. doooohhh....pas banget ini buat saya... izin menikmatinya sendiri, di file pribadi. ma kasih sebelumnya.

    *btw, majalah apa? ada lowongan? hikss*

    ReplyDelete