14 November 2007

Ngalah karena Basah

"Mbak, kamu ngalah donk sama adik!" begitulah kalimat yg sering diucapkan Ibu kepada kakakku ketika kami masih kecil dulu. Pada waktu itu, aku hanya berpikir sederhana; mungkin karena aku anak laki2 satu-satunya maka Ibu memanjakanku. Eh, ternyata dugaanku salah. Ada sebuah maksud mengapa Ibu berkata demikian. Memang sih, hal ini bukan aku sendiri saja yg mengalami. Tapi di banyak tempat, dgn kondisi sosial dan kultur yg berbeda, seorang Ibu pada umumnya meminta agar anak yg lebih besar (tua) mengalah pada anak yg lebih kecil (muda). Teman2ku (yg seumuran) jg pernah mengalami hal serupa. Permintaan Ibu agar kakak mengalah padaku adalah untuk mengajarkan kakak akan wujud syukur. Syukur? Ya, menurut Ibu, sebagai anak yg terlebih dahulu lahir ke dunia, kakak telah mendapatkan (sebagian besar) apa yg adiknya belum dapatkan. Jadi, sudah sepantasnyalah ia merasa "basah" (cukup puas) dgn apa yg telah ia dapatkan. Tapi, mungkin karena perbedaan (selisih) umur diantara kami cukup dekat, maka sikap mengalah sangat sulit untuk dilakukan oleh kakakku pd saat itu - jd ia hanya berpikir bahwa Ibu pilih kasih. Namun seiring berjalannya waktu, iapun akhirnya dpt mngerti akan makna mengalah karena basah. Dan kinipun aku mengalaminya. Seperti semalam, ketika adikku meminta sebuah coklat yg sangat aku sukai, entah knapa (tiba2) aku tak kuasa menolaknya. "Ya, makan aja", kataku. Dan (anehnya) tidak ada rasa penyesalan atwpun kehilangan dlm diriku. Entah karena rasa sayang atw entah karena kenyang. Tapi menurutku, ini terjadi karena aku telah melewati masa2 itu. Masa dimana lezatnya coklat, lumer & tertelan dlm mulutku. Dan entah berapa banyak sudah jumlah coklat yg aku habiskan sepanjang hidupku ^^! Jadi ini rasanya cukup normal bagi seorang adik yg baru mengenal coklat selama tujuh tahun. Nah, kira2 bisa ngga ya "prinsip coklat" ini disamakan dgn "prinsip uang"? Bukankah para pejabat yg bergaji besar dan hidup serba mewah itu seharusnya mengalah dgn rakyat kecil? Yah itung2, yg memilih mereka shg mereka mendapatkan "kursi" kan rakyat kecil juga. Aduh, jd bingung sendiri nih...

6 comments:

  1. duit beda sama coklat mas
    kalo udah urusan duit antar keluarga aja bisa pecah
    kembali lagi pada pribadi masing2
    kalo akhlaknya baik, dia akan gelap mata ketika sedang basah di dalam tumpukan duit. pasti ia akan berbagi dg yg membutuhkan ;)
    pengalaman soal ngalah mengalah antara adik dan kakak. saya lebih sering mengalah sama kakak saya :)

    ReplyDelete
  2. Saya sangat setuju banget sama Ibunda mas Koekoeh yg sudah menanamkan 'pendidikan' yg bermakna pada putra putrinya.

    'Mengalah' memang kelihatannya hal sepele yg bisa kita lakukan, tapi di sana terkandung nilai-nilai luhur yg seharusnya kita jalankan. Lagian, mengalah itu bukan berarti kalah kan???

    Sukses buat mas Koekoeh dan keluarga. Salam hormat buat Ibunda.

    ReplyDelete
  3. kadangkala nilai pendidikan baru kita ketahui intinya
    beberapa saat..
    beberapa bulan..
    beberapa tahun..
    kemudian

    berbahagialah kita yang mampu mengambil hikmah dan meneladaninya

    ReplyDelete
  4. Waduh,gw bingung tuh bro! Kan normal kl lu ngalah ma adik lu... Tp knp lu jg sring ngalah ma gw? ^^;
    Lu sring ngrelain krupuk lu buat gw,ato ga cola lu buat gw... Apakah lu tau gw lbih muda drpd lu? Ato jgn2 lu emg naksir gw, sperti yg digosipkan oleh Han? ^^;

    ReplyDelete
  5. wakakakaka... dasar "nino gono mono" bisa aja lu bro ^^!

    perasaan bukannya lu yg naksir gw?!
    secara lu sering ngajakin gw sepedaan k pantai untuk liat sunset trus curhat ala bombai ^^;

    ReplyDelete
  6. i am older than you...
    so should i give something to you?
    i'll give you my wisdom...
    swooooosh...
    now.. d'ya feel somethin'?
    wiser?
    you're a good man amigo
    keep that..

    ReplyDelete